Kategori

Catatan (3) cerpen (12) puisi (1)

Selasa, 29 Maret 2016

Zaman Para Pencela

(Dimuat pada  koran Riau Pos tanggal 24 Januari 2016)

Ilustrasi oleh Danje S Moeis

Bagaimana akan luruh mengguyur permukaan, mempermudah jatuhnya daun kering, menyungkup rekahan urat tanah, sementara aku menyayangi kalian. Jika lantas keniscayaan rahmat ini berulah laksana runtuhnya milyaran tombak petaka, itu karena satu dari sekian tugasku adalah memberi peringatan - Tetes Hujan

Kota ini tengah bersolek. Setindak demi setindak berbenah diri menjulang-julang gedung agar elok nian dikata orang. Seperti tak rela menjadi anak bawang di mata siklus peradaban. Keliru ataupun tidak, anggapan ini berkelindan di pikiran Mudasir yang menyangka imbas budaya metropolitan akan segera menegur kediamannya. Cuma persoalan bersabar menunggu waktu.

Tungku Cinen


Dalam warisan sejarah yang acapkali memenuhi perbincangan di meja makan dan kami yakini betul kesahihannya adalah nenek moyang kami terlahir dari abu tungku perapian. Kukira, kami cukup beruntung memiliki Buyut Sora yang dikaruniai umur panjang dan bersiteguh layaknya sahibulhikayat. Tiga malam lalu kami merayakan ulangtahunnya ke-104 di rumah besar dengan seremoni sederhana. Setelah kenyang menyantap hidangan prasmanan yang dimasak Bibi Nan, di hadapan para cicit, Buyut Sora bertunaikan hasrat lewat daya tuturnya. Lesehan pualam teras ditemani bebunyian Tonggeret seolah tak rela kami, para cicit, melupakan susur galur dan silsilah keluarga.

Konon, katanya, hiduplah seorang wanita tunawisma yang sepanjang hayat tak pernah dipersunting. Lusuh tubuh, malang nasib membuat tak seorang pun lelaki mau menjadi suaminya. Hingga ia menua dan hidup sebatang kara meneduh dangau pengap beratapkan rumbia.

Selasa, 19 Januari 2016

Insiden Herbert's Bakery


Bau anyir menyeruak dari bilik sebuah gudang pabrik roti. Patok-patok police line mengelilingi bangunan super megah bereklame Herbert's Bakery itu. Rintik hujan serta petir intensitas ringan tak menyurutkan ratusan orang untuk berkerumun layaknya semut menemukan sumber glukosa. Beberapa di antaranya menjepit hidung seraya menjulur-julurkan kepala, alih-alih dapat mengintip keadaan yang sedang terjadi di dalam. Sebagian lainnya memilih bergerombol membisikkan spekulasi asal dari mulut masing-masing.

Pada sisi Mosley Street yang becek, seorang lelaki berjubah kulit hitam dengan topi senada keluar dari SUV merah marun. Membentangkan payung besar lantas berjalan menyibak pelastik garis kuning. Dari arah dalam seorang berbadan tinggi besar, berwajah pipih serupa ikan pari, serta berseragam polisi buru-buru menghentikan langkah lelaki itu.

Selasa, 06 Oktober 2015

Vragel Daeng

"Dengar, Nes... Kalau keyakinanmu itu membuatmu jadi seorang penakut, hanya ada dua kemungkinan: kau sedang meyakini hal yang salah, atau caramu meyakini sesuatu itu salah."
Beberapa hari lalu ucapan itu keluar dari mulut Daeng Zaid. Saat ia baru saja pulang mengajar madrasah dan melihatku duduk terpekur di teritis rumah. Ia memilih singgah sebentar. Sebagai tamu, kupersilakan ia masuk, namun Daeng menolak dan memilih duduk di serambi. Takut jadi sumber fitnah, katanya.

Nasihat yang sebenarnya tidak ditujukan padaku itu terlontar di sela-sela sesapan teh yang kusuguhkan. Sebagai kalimat pembuka dari orang yang dikenal tak suka basa-basi. Aku tahu Daeng sedang menyindir suamiku, dan sedikit banyak hal itu menimbulkan rasa tidak terima di benakku.

Minggu, 28 Juni 2015

Rumah Simpang Empat

Musim kemarau, Mei 1986

Di bawah raksasa Angsana, aku menyandar dan mengamati kondisi betisku. Linu. Ada lebam biru yang melukis di sana. Sial sekali hari ini!

Celana pendek merah yang menjadi seragam sekolah tak berhasil menutupi area itu. Aku tak berani pulang. Mak pasti tak segan menyemburkan ludah ke mukaku dengan umpatan-umpatan yang baru akan berhenti jika ada kereta api melintas di rel depan rumah kami. Belum lagi jika membayangkan mak sedang mengunyah daun sirih, bisa-bisa aku menghabiskan waktu semalaman di kamar mandi demi membersihkan bercak-bercak merah yang muncrat memenuhi pipiku.

Sial sekali hari ini. Penghuni rumah simpang empat berhasil membalikkan batu yang kulempar ke pintunya dan mengenai betisku. Biasanya dengan gesit aku dapat menghindar atau menjadikan ransel sebagai proteksi ampuh untuk membendung serangan balik dari lelaki renta penghuni rumah reot itu.